Bontang – Anggota Komisi C DPRD Kota Bontang, Bonnie Sukardi, mendorong Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kota Bontang untuk terus berinovasi dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pengembangan sektor pelayanan publik, wisata edukasi, hingga kawasan rekreasi masyarakat.
Dorongan tersebut disampaikan Bonnie saat pembahasan program kerja Disdamkartan bersama DPRD Kota Bontang. Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menilai Disdamkartan memiliki semangat besar dalam menciptakan terobosan baru yang tidak hanya fokus pada penanganan kebakaran dan penyelamatan, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi bagi daerah.
Menurut Bonnie, salah satu langkah inovatif yang saat ini mulai dikembangkan ialah pembangunan Pos Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan di kawasan pesisir Bontang Kuala. Infrastruktur tersebut dirancang bukan hanya sebagai pusat pelayanan kebakaran dan penyelamatan, melainkan juga dikembangkan menjadi kawasan rekreasi dan edukasi masyarakat.
“Semangatnya mengejar PAD dan membuat tempat di ujung kawasan itu menjadi menarik. Kalau bisa dibuat seperti di Biduk-Biduk, tentu bagus,” kata Bonnie, Senin (11/5/2026).
Ia menilai kawasan Bontang Kuala memiliki potensi wisata yang cukup besar apabila dikelola secara kreatif dan terintegrasi dengan pelayanan publik. Kehadiran pos Disdamkartan di kawasan tersebut dinilai dapat menjadi ikon baru kawasan pesisir sekaligus mendukung peningkatan kunjungan masyarakat.
Bonnie mengatakan DPRD siap mendukung realisasi program tersebut, khususnya anggota dewan dari daerah pemilihan Bontang Kuala dan wilayah utara. Menurutnya, pengembangan kawasan wisata berbasis pelayanan publik merupakan langkah positif yang perlu didorong bersama.
“Kalau ini kita sama-sama dorong, insyaallah bisa terealisasi. Teman-teman dewan dari wilayah utara tinggal sounding supaya program ini bisa dikerjakan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Disdamkartan Kota Bontang, Amiluddin, menjelaskan pihaknya selama ini terus berupaya menghadirkan inovasi baru di tengah keterbatasan tugas dan anggaran yang dimiliki. Ia menegaskan konsep pengembangan kawasan Disdamkartan bukan bertujuan mengubah fungsi utama lembaga, melainkan memperluas manfaat pelayanan kepada masyarakat.
Menurut Amiluddin, salah satu inovasi yang pernah direncanakan ialah pengembangan kawasan edukasi berbasis penanganan satwa liar hasil evakuasi Disdamkartan, termasuk buaya yang sering ditangkap dari permukiman warga.
Ia mengungkapkan, sebelumnya pihaknya sempat memiliki gagasan menghadirkan ruang edukasi agar masyarakat dapat melihat langsung proses penanganan satwa liar sekaligus mengenal tugas penyelamatan Disdamkartan lebih dekat. Namun, rencana tersebut belum terealisasi secara optimal karena keterbatasan dukungan dan kewenangan.
“Tujuannya bukan membuat kebun binatang. Kami tetap menyerahkan satwa kepada pihak berwenang. Tapi sekarang justru setelah penangkapan, langsung diambil oleh instansi terkait karena mereka juga keterbatasan anggaran untuk datang ke Bontang,” jelas Amiluddin.
Karena kondisi tersebut, Disdamkartan terpaksa membuat ruang penampungan sementara di area kantor untuk mengantisipasi hasil evakuasi satwa liar sebelum dipindahkan. Menurutnya, jika konsep pengembangan edukasi tersebut mendapat dukungan sejak awal, kawasan Disdamkartan berpotensi menjadi salah satu destinasi edukasi masyarakat.
Meski demikian, Amiluddin menegaskan pihaknya tidak ingin berhenti berinovasi. Ia berharap Disdamkartan tetap diberikan ruang untuk mengembangkan program-program kreatif yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi daerah.
“Padahal sebenarnya kalau dulu rencana itu disetujui, sekarang masyarakat mungkin sudah bisa menikmati kawasan edukasi itu. Tujuan kami sebenarnya supaya kami juga bisa ikut menyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah, red),” tutupnya. (Adv/DPRD Bontang)








