Awal 2026, 126 Kasus Perceraian di Bontang, Wawali Soroti Faktor Ekonomi dan Gaya Hidup

banner 468x60

Bontang – Tingginya angka perceraian di Kota Taman menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang. Hingga triwulan pertama 2026, Pengadilan Agama (PA) Kota Bontang mencatat sebanyak 126 perkara perceraian yang ditangani.

Berdasarkan data hingga Maret 2026, kasus yang masuk didominasi oleh cerai gugat. Dari total tersebut, terdapat 94 perkara cerai gugat dengan 63 di antaranya telah dikabulkan. Sementara itu, cerai talak tercatat sebanyak 32 perkara, dengan 14 perkara telah diputuskan.

Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menyebut tingginya angka perceraian ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama persoalan ekonomi dan gaya hidup. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian khusus pemerintah daerah.

“Beberapa waktu lalu di Kantor MUI (Majelis Ulama Indonesia, red) Kota Bontang, saya mengumpulkan para mubaligh dan menyampaikan persoalan ini. Angka perceraian kita cukup tinggi, salah satu penyebabnya adalah ekonomi, selain juga faktor gaya hidup,” ujarnya.

Menurutnya, ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran kerap memicu konflik dalam rumah tangga. Ia mencontohkan, ketika pendapatan keluarga terbatas, namun gaya hidup yang dijalani justru melampaui kemampuan.

“Kalau penghasilan suami hanya Rp3 juta per bulan, jangan memaksakan belanja sampai Rp5 juta. Harus disesuaikan, bahkan kalau bisa ada yang ditabung,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti pengaruh kebiasaan negatif seperti judi online (Judol) dan pinjaman online (Pinjol) yang dinilai memperburuk kondisi ekonomi keluarga dan memicu keretakan rumah tangga. Tak hanya itu, Agus Haris menekankan pentingnya ketahanan mental dan komitmen dalam menjaga keutuhan keluarga. Ia meminta para tokoh agama, baik di masjid maupun gereja, untuk turut aktif memberikan pembinaan kepada masyarakat.

“Saya minta para mubaligh untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa yang paling utama adalah menjaga keluarga. Tidak perlu tergoda dengan hal lain. Itu pasangan kita, itu jodoh yang sudah diberikan Tuhan,” jelasnya.

Ia berharap melalui pendekatan keagamaan dan pembinaan mental yang intensif, masyarakat dapat lebih bijak dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Pria yang akrab disapa AH ini pun berkomitmen untuk terus menekan angka perceraian melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, demi menciptakan keluarga yang harmonis dan sejahtera.

“Jangan sampai dipake judol (Judi Online, red). Kalau itu sudah penyakit mental. Oleh karena itu saya sampaikan kepada mubaligh itu tolong dijaga mental warga kita,” tutupnya. (*Adv).

Deskripsi Gambar

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *