Bontang – Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, memberikan respons serius perihal lonjakan tagihan air yang dialami warga Bontang yang memicu keresahan. Agus Haris mengaku hingga saat ini belum dapat memastikan faktor utama yang memicu lonjakan tersebut.
Ia menilai perlu ada pengecekan menyeluruh agar persoalan dapat dipahami secara objektif. Ia menegaskan, persoalan ini harus segera ditangani agar tidak berlarut-larut
“Saya belum mengetahui secara detail apa yang menjadi kendala yang dialami warga Bontang,” ujarnya ujarnya saat diwawancara wartawan, Jumat (10/4/2026) malam.
Sebagai informasi, dalam beberapa waktu terakhir, keluhan pelanggan ramai bermunculan di media sosial setelah mereka mendapati nominal tagihan yang meningkat drastis dari biasanya.
Lebih lanjut, Orang nomor dua di Kota Taman menyatakan pemerintah akan menindaklanjuti keluhan tersebut secara serius. Ia berencana turun langsung ke lapangan guna mencari tahu penyebab pasti kenaikan tagihan yang dirasakan masyarakat.
“Kita akan jadwalkan dalam waktu dekat ini. Saya akan cek secara langsung.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa tarif air di Kota Bontang secara umum masih tergolong paling rendah dibandingkan daerah lain di Kalimantan Timur. Hal itu berdasarkan data yang diterima pemerintah daerah.
“Kalau dibandingkan dengan daerah lain di Kalimantan Timur, tarif air di Bontang masih yang paling rendah,” tambahnya.
Lebih lanjut, pria yang akrab disapa AH itu menjelaskan bahwa selama kurang lebih delapan tahun terakhir tidak ada penyesuaian tarif air. Namun, di saat yang sama, biaya operasional, perawatan jaringan, hingga peningkatan layanan terus mengalami kenaikan.
Menurutnya, lonjakan tagihan yang dirasakan warga tidak serta-merta disebabkan oleh penyesuaian tarif dari Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Taman. Ia menduga, faktor penggunaan air oleh pelanggan menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya tagihan.
Salah satu contoh yang kerap terjadi adalah penggunaan satu sambungan air oleh beberapa kepala keluarga, seperti pada rumah kontrakan atau kos-kosan. Kondisi ini membuat volume pemakaian meningkat signifikan sehingga berdampak langsung pada besaran tagihan.
“Kalau satu sambungan digunakan banyak orang, seperti rumah sewa atau kos-kosan, tentu pemakaiannya tinggi dan tagihannya ikut naik,” jelasnya.
Selain itu, kebocoran pipa maupun kelalaian dalam penggunaan, seperti lupa mematikan keran, juga dapat memicu pembengkakan tagihan. Penggunaan air yang tidak terkontrol sering kali tidak disadari oleh pelanggan.
“Ada kemungkinan kebocoran pipa atau keran yang tidak tertutup dengan baik. Itu juga bisa menyebabkan tagihan melonjak,” tandasnya.
Politisi Partai Gerindra ini meminta Perumda agar tidak menentukan pemakaian konsumen berdasarkan perkiraan. Ia meminta untuk melakukan pengecekan kilometer pelanggaran secara langsung dan berkala.
“Jangan juga hanya memperkirakan tapi dicek secara langsung,” pungkasnya.
Diketahui, penyesuaian tarif air Perumda Tirta Taman mulai berlaku sejak 1 April 2026. Dalam sepekan terakhir, sejumlah pelanggan mengeluhkan kenaikan tagihan dengan nominal bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga mencapai jutaan rupiah. (*Adv).









